Dampak Perubahan Iklim pada MA

Perubahan iklim berpengaruh terhadap semua sisi kehidupan masyarakat adat di hampir semua wilayah di Indonesia. Di Kalimantan Barat, pada 2006 dua desa di Kecamatan Tanjung Lokang dilaporkan mengalami kekurangan pangan akibat kemarau yang membuat ladang mereka gagal panen dan juga serta membuat pasokan bahan pangan terhenti akibat sungai-sungai yang mengering. Masih di Kalimantan Barat, pertengahan 2010 Orang Iban yang tinggal di Sungai Utik-Kapuas Hulu melaporkan mengalami gagal panen akibat tanaman padi mereka mati tanpa alasan yang jelas. Orang Sungai Utik juga melaporkan bahwa siklus pertanian mereka terganggu akibat cuaca yang berubah-ubah sehingga pergantian musim pun menjadi tidak jelas. Akibat dari peristiwa ini produksi beras mereka menurun drastis dimana hasil panen 2010 mengalami penurunan hingga sekitar 70 %.  Akibat dari peristiwa ini mereka harus berkonsentrasi pada tanaman karet guna bisa menutup kekurangan kebutuhan berasnya. Sejumlah kabupaten di provinsi Kalimantan Barat, terutama Kapuas Hulu dan Sintang juga dilaporkan terendam banjir selama lebih dari delapan bulan sehingga mengakibatkan ratusan ribu orang kehilangan harta bendanya dan juga mengalami penurunan kualitas hidup (HuMa dan Kamar Masyarakat DKN, 2010).

Di Papua, untuk mengatasi kekeringan yang telah mengeringkan kolam ikan, masyarakat petani ikan di Genyem berencana melapisi kolam ikan dengan terpal, sehingga air kolam tidak terserap habis di tanah. Nelayan laut di Distrik Demta, mereka kesulitan melaut karena cuaca yang tidak menentu, disamping juga gelombang laut yang semakin mengganas. Kalaupun sempat melaut, hasil tangkapannya sangat kurang jika dibanding dengan waktu yang lalu. Akibatnya, harga ikan dipasaran mengalami kenaikan. Di Sumba, masyarakat adat yang tinggal di Kawasan Taman Nasional (TN) Wanggamenti dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kambaniru mengaku bahwa perubahan iklim telah mengakibatkan hujan tidak menentu, gelombang laut meningkat dan angin kencang. Akibatnya, musim tanam berubah, meningkatnya peristiwa gagal panen, dan timbul penyakit tak dikenal yang menyerang manusia, tanaman, dan hewan. Di Sulawesi Tengah, masyarakat adat Tompu mengalami gagal panen akibat iklim yang tidak menentu dan merusak tanaman pangan mereka. Akibat dari peristiwa ini mereka terpaksa harus beralih profesi menjadi tukang ojek, buruh tani di desa lain, pemulung, dan atau penambang guna memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Sejumlah orang yang mencoba bertahan untuk tetap menjadi petani, berusaha mengembangkan bibit tanaman pangan lokal, namun upaya ini belum banyak membuahkan hasil. Sementara itu, dilaporkan juga berbagai peristiwa banjir dan tanah longsor terus terjadi di berbagai wilayah di provinsi Kalbar dan juga mengakibatkan ratusan ribu orang kehilangan harta benda. Di Kampar-Riau, Masyarakat Kampar juga mengalami gagal panen atau penurunan hasil pertanian pangan mereka akibat hujan yang tidak menentu dan suhu panas yang tinggi. Mereka mencoba melakukan adaptasi yakni dengan menanam bibit tanaman pangan lokal dan membendung kanal 12 guna mencegah migrasi ikan di sungai tersebut.  Namun upaya-upaya ini tidak banyak membantu karena selain kondisi cuaca yang tidak menentu, aktivitas penebangan hutan di Semenanjung Kampar masih terus berlanjut yang menipiskan sumber bahan pangan masyarakat (HuMa dan Kamar Masyarakat DKN, 2010).

bagikan :
  • Print
  • email
  • Facebook
  • Twitter
  • del.icio.us
  • StumbleUpon

Daftar Sumber Daya

  • Dampak

    impacts_in
    kategori :

    Dampak (Bahasa Indonesia) from LifeMosaic on Vimeo. Video ini mununjukkan dampak perubahan penggunaan lahan dalam sekala besar terhadap iklim global dan masyarakat adat. Sumber: LifeMosaic, Gekko Studio, AMAN danTebtebba (20 menit). bagikan : buka dokumen »

  • Memandang Semenanjung Kampar

    kampar
    kategori :

    Memandang Semenanjung Kampar (Bahasa Indonesia) from LifeMosaic on Vimeo. Semenanjung Kampar merupakan lahan gambut seluas 700,000 hektar dengan kedalaman mencapai 15 meter, di Pulau Sumatra, Indonesia. Lahan gambut tersebut mengandung lebih dari 2 milyar ton karbon. 400,000 hektar hutan masih... buka dokumen »

  • Suatu Kesempatan Berbicara, Suatu Kesempatan Mendengar

    chance
    kategori :

    Suatu Kesempatan Berbicara, Suatu Kesempatan Mendengar (Bahasa Indonesia) from LifeMosaic on Vimeo. Masyarakat adat hanya sedikit menyumbang dalam penyebab utama perubahan iklim. Justru banyak yang dapat mereka tawarkan untuk kemanusiaan di saat seperti ini, karena gaya hidup mereka yang berkelanjutan,... buka dokumen »

  • dari timor ke krui bagaimana petani dan nelayan menghadapi dampak perubahan iklim (2009)

    New Picture (15)
    kategori :

    Tulisan ini merupakan kumpulan studi kasus. Perwakilan petani dan nelayan menyampaikan kesaksiannya tentang pengalaman kehidupan sehari-harinya, sejak alam mulai berubah. Jumlah halamannya: 15. Sumber: CSF. bagikan : buka dokumen »